inggar.kusuma10's blog

mencari dan memberi yang terbaik

SMS PENIPU

Holaaaaa :)

Pengen posting dari 3 hari yang lalu tapi disibukkan dengan tugas-tugas MPKMB. hheee~

jadi baru kesempetan sekarang dehhhh mo sharingg. ^_^

Gini nih critanya, 3 hari yang lalu gue dapet sms dari “orang tal dikenal” dia menyebutkan dia adalah nyokap gue, kurang lebih isi smsnya begini :

beliin dulu mama pulsa simpati 50rb skrg, dino baru mama, ini nomornya 081220384997 secepatnya. penting dari mama, nanti mama ganti uangnya, cepat ya skrg.

kurang lebih isi smsnya begitu dehh. parah amat yahh boongnya?orang mah terbalik yang minta beli pulsa mah anaknya, ini malah orang tunya. gag masuk akal bgt dehhh.  Selang sehari temen asrama sekamar gue juga dapet sms kayak begitu juga, tapi dari nomor lain. Iseng banget deh penipu-penipu sekarang. Buat yang baca postingan ini hati-hati yah, jangan mudah tertipu sms kayak begitu!

makasii yang uda mau baca postingan saya ^__^

Anak-anak yang Melampaui Usianya

Disebuah ruang sekolah dasar, seorang guru berdiri di depan kelas sedang mengajar murid-muridnya yang masih duduk di kelas tiga. Guru tersebut coba menerangkan keistimewaan dan urgensi shalat Shubuh kepada mereka. Dengan bahasa yang tertata baik dan metode penyampaian yang sempurna, sang guru berhasil menanamkan kesadaran ibadah pada murid-muridnya. Bahkan, seorang anak laki-laki diantara murid-murid itu, sangat tersentuh mendengar penjelasan indah tentang pentingnya shalat Shubuh berjemaah di mesjid, sehingga muncul rasa penasaran di hatinya. Terlebih anak kecil tersebut memang belum pernah sekalipun melakukan shalat Shubuh selama hidupnya, dan juga tidak melihat keluarganya melakukan itu.

Setelah kembali ke rumahnya, kata-kata gurunya tentang shalat Subuh terus terngiang di telinganya. Ia kemudian berpikir mencari cara, bagaimana bisa bangun pagi untuk melaksanakan shalat Shubuh. Lama ia berpikir, tapi tak ada solusi yang ia temukan kecuali harus berjaga sepanjang malam. Maka ia pun melakukan itu. Susah payah ia menahan kelopak matanya dimatanya itu, agar tidak terpejam. Tapi dengan usahanya yang sungguh-sungguh, akhirnya ia bertemu dengan Shubuh.

Begitu suara adzan terdengar, segara ia berwudhu dan bersiap menuju masjid. Namun ketika membuka pintu, anak kecil itu terperangah. Kesulitan besar menghadang di depannya. Ia sadar bahwa masjid ternyata cukup jauh dari rumanhya, sementara di luar sana masih terlihat gelap dan sepi. Ia tak punya keberanian yang cukup untuk menembus kesunyian Shubuh yang berselimut kegelapan, dengan usianya yang masih delapan tahun. Akhirnya, ia teduduk di depan pintu dengan rasa kecewa yang dalam, dan dengan suara tangis yang tertahan, karena takut  di ketahui dan di marahi orang tuanya.

Dalam balutan sedih dan kecewa, tiba-tiba anak tersebut mendengar suara langkah kaki melintas di jalan depan rumahnya. Buru-buru ia membuka pintu dan berlari pelan-pelan mendekati sumber suara. Riang bukan kepalang. Sebab ternyata, suara itu adalah langkah kaki dari kakek temannya bernama Ahmad, yang sedang berjalan menuju masjid. Dia pun segera mengikut di belakang kakek itu, perlahan dan tanpa suara, agar si kakek tidak mengetahuinya dan mengadukannya kepada ayahnya.

Hari berikutnya, anak ini selalu melakukan hal yang sama, dengan cara yang sama. Setiap pagi ia bangun Shubuh, tanpa sepengetahuan seorangpun dari keluarganya, lalu berangkat  ke masjid menunaikan shalat Shubuh, membuntut si kakek dengan langkah kaki ringan dan pelan agar tidak ketahuan. Akan tetapi kebersamaan abadi adalah hal yang mustahil. Beberapa bulan kemudian, si kakek meninggal.

Si bocah kecil tersebut pun tahu, dan berita kematian si kakek adalah duka yang mendalam baginya. Ia menangis. Terisak-isak. Sang ayah yang melihat perilaku anaknya, merasakan ada sesuatu yang aneh. Dia lalu bertanya, “Nak, mengapa kamu menangis seperti itu. Kakek si Ahmad kan bukan anak kecil seusiamu yang kamu bisa bermain dengannya. Dia juga bukan kerabat kita sehingga kamu tidak perlu merasa kehilangan dia.”

Anak itu lalu menatap ayahnya, dengan air mata yang terus mengalir dan wajah yang tampak begitu sedih, seraya berkata “Andai saja yang mati itu adalah ayah, dan bukan kakek itu!”

Mendengar ucapan anaknya si ayah seperti tersambar petir. Ia kaget luar biasa. “Kenapa anak sekecil ini bisa berkata-kata seperti itu? Lalu kenapa ia mencintai si kakek sedemikian dalam?” pikirnya dalam hati. Anak itu lalu berkata, “Aku tidak merasa kehilangan karena dia teman mainku atau karena kerabatku, seperti yang ayah katakan.”

“Lalu kenapa?” tanya ayah penasaran.

“Karena shalat. Karena shalat,” tegas si anak.

Dengan suara serak dan berat ia mengajukan tanya, “Kenapa ayah tidak shalat Shubuh? Kenapa ayah tidak seperti kakek itu dan seperti orang-orang yang aku lihat itu?”

“Dimana kamu melihat mereka?” desak ayah itu.

“Di masjid,” jawab anak itu singkat.

“Bagaimana caranya kamu bisa melihat mereka?” tanya ayahnya lagi. Si anak pun lalu menceritakan pengalamannya selama ini yang setiap Shubuh selalu membuntuti si kakek. Hampir saja air mata si ayah tumpah mendengarkannya. Seketika ia peluk anaknya erat-erat. Cerita anak itu telah menjadi pelajaran sangat berharga bagi ayah, dan sejak itu ia tak pernah lagi menginggalkan shalat lima waktu berjemaah di masjid.

Kisah ini adalah potret nyata seorang anak kecil yang secara perilaku  melampaui usianya. Dia telah sukses mengetuk kesadaran ayahnya untuk bangun pagi dan melaksanakan shalat.

Minggu Siang di Sebuah Mall yang Membuat Saya Sadar

Waktu itu Minggu siang di sebuah mal. Seorang bocah lelaki berumur delapan tahun berjalan menuju ke sebuah gerai penjual es krim. Karena pendek, ia terpaksa memanjat untuk bisa “melihat” si pramusaji. Penampilannya yang lusuh sangat kontras dengan suasana ingar-bingar mal yang serba wangi dan indah.
“Mbak, es krim sundae  harganya berapa?” si bocah bertanya.
“Lima ribu rupiah,” yang ditanya menjawab.
Bocah itu kemudian merogoh recehan duit dari kantungnya. Ia menghitung recehan di telapak tangan dengan teliti. Sementara si pramusaji menunggu dengan raut muka tidak sabar. Maklum. banyak pembeli yang lebih “berduit” mengantri di belakang pembeli ingusan tersebut.
“Kalau plain cream berapa?”
Dengan suara ketus setengah melecehkan, si pramusaji menjawab, “Tiga ribu lima ratus.”
Lagi-lagi si bocah menghitung recehannya, “Kalau begitu saya mau sepiring plain cream saja, Mbak.” kata si bocah sambil memberikan uang sejumlah harga es yang diminta. Si pramusaji pun segera mengangsurkan sepiring plain cream.
Beberapa waktu kemudian, si pramugari membersihkan meja dan piring kotor yang sudah ditinggalkan para pembeli. Ketika mengangkat piring es krim bekas dipakai bocah itu, ia terperanjat. Di meja itu terlihat dua keping logam lima ratusan serta lima keping recehan seratusan yang tersusun rapi. Ada rasa penyesalan tersumbat di kerongkongan. Sang pramusaji tersadar, sebenarnya bocah tadi bisa membeli sundae cream. Namun, ia mengorbankan keinginan pribadi dengan maksud agar bisa memberikan tip bagi si pramusaji.

Di mana pun kita wajib memperlakukan orang lain dengan sopan, bermartabat, dan penuh hormat. Setelah melihat kejadian itu saya sadar, kadang saya suka keterlaluan jika sedang bercanda kepada teman saya karena saya orang yang sangat jail. Cerita tersebut membuka pikiran saya untuk melakukan seseorang dengan sopan dan hormat.